Selasa, 19 April 2016

(INTRA UTERINE FETAL DEATH / IUFD)

A. DEFENISI
           
            Kematian janin dalam kandungan disebut Intra Uterin Fetal Death (IUFD), yakni kematian yang terjadi saat usia kehamilan lebih dari 20 minggu atau pada trimester kedua dan atau yang beratnya 500 gram. Jika terjadi pada trimester pertama disebut keguguran atau abortus.
             Ada juga pendapat lain yang mengatakan kematian janin dalam kehamilan adalah kematian janin dalam kehamilan sebelum proses persalinan berlangsung pada usia kehamilan 28 minggu ke atas atau berat janin 1000 gram ke atas.

B. ETIOLOGI
            1. Fetal (penyebab 25-40%)
            • Anomali/malformasi kongenital mayor : Neural tube defek, hidrops, hidrosefalus,       kelainan jantung congenital
            • Kelainan kromosom termasuk penyakit bawaan. Kematian janin akibat kelainan genetik biasanya baru terdeteksi saat kematian sudah terjadi, melalui otopsi bayi. Jarang dilakukan pemeriksaan kromosom saat janin masih dalam kandungan. Selain biayanya mahal, juga sangat berisiko. Karena harus mengambil air ketuban dari plasenta janin sehingga berisiko besar janin terinfeksi, bahkan lahir prematur.
            • Kelainan kongenital (bawaan) bayi
Yang bisa mengakibatkan kematian janin adalah hidrops fetalis, yakni akumulasi cairan dalam tubuh janin. Jika akumulasi cairan terjadi dalam rongga dada bisa menyebabkan hambatan nafas bayi. Kerja jantung menjadi sangat berat akibat dari banyaknya cairan dalam jantung sehingga tubuh bayi mengalami pembengkakan atau terjadi kelainan pada paru-parunya.
            • Janin yang hiperaktif
Gerakan janin yang berlebihan -apalagi hanya pada satu arah saja- bisa mengakibatkan tali pusat yang menghubungkan ibu dengan janin terpelintir. Akibatnya, pembuluh darah yang mengalirkan suplai oksigen maupun nutrisi melalui plasenta ke janin akan tersumbat. Tak hanya itu, tidak menutup kemungkinan tali pusat tersebut bisa membentuk tali simpul yang mengakibatkan janin menjadi sulit bergerak. Hingga saat ini kondisi tali pusat terpelintir atau tersimpul tidak bisa terdeteksi. Sehingga, perlu diwaspadai bilamana ada gejala yang tidak biasa saat hamil.
         
2. Placental  (penyebab 25-35%)
            • Abruption
            • Kerusakan tali pusat
            • Infark plasenta
            • Infeksi plasenta dan selaput ketuban
            • Intrapartum asphyxia
            • Plasenta Previa
            • Twin to twin transfusion S
            • Chrioamnionitis
            • Perdarahan janin ke ibu
            • Solusio plasenta

3. Maternal  (penyebab 5-10%)
            • DM
            • Hipertensi
            • Trauma
            • kehamilan lewat waktu (posterrm)
            • Ruptur uterus
            • Postterm pregnancy
            • Obat-obat                         

            Kehamilan lebih dari 42 minggu. Jika kehamilan telah lewat waktu, plasenta akan mengalami penuaan sehingga fungsinya akan berkurang. Janin akan kekurangan asupan nutrisi dan oksigen. Cairan ketuban bisa berubah menjadi sangat kental dan hijau, akibatnya cairan dapat terhisap masuk ke dalam paru-paru janin. Hal ini bisa dievaluasi melalui USG dengan color doppler sehingga bisa dilihat arus arteri umbilikalis jantung ke janin. Jika demikian, maka kehamilan harus segera dihentikan dengan cara diinduksi. Itulah perlunya taksiran kehamilan pada awal kehamilan dan akhir kehamilan melalui USG.

C. TANDA DAN GEJALA
1. Ibu tidak merasakan gerakan janin
 Nilai DJJ
 Bila ibu mendaptkan sedatif, tunggu hilangnya pengaruh obat, kemudian nilai ulang.
 Bila DJJ abnormal,lihat penatalaksanaan DJJ abnormal.
 Bila DJJ tidak terdengar, pastikan adanya kematian janin dengan stetoskop ( Doppler).
 Bila DJJ baik,berarti bayi tidur.
 Rangsang janin dengan rangsangan suara (bel) attau dengan menggoyangkan perut ibu sehingga ibu merasakan gerakan janin. Bila DJJ meningkat frekuensinya sesuai dengan gerakan janin, maka janin dapat dikatakan normal.
 Bila DJJ cenderung turun saat janin bergerak, maka dapat disimpulkan adanya gawat janin.
v

2. Gerakan janin tidak dirasakan lagi

            Gejala dan tannda selau ada Gejala dan tanda kadang – kadang ada Diagnosis kemungkinan. Gerakan janinberkurang atau hilang.Nyeri perut hilang timbul atau menetap
Perdarahan pervaginam sesudah hamil 22 minggu. Syok

3. Uterus tegang / kaku.
  • Gawat janin atau DJJ tidak terdengar. Solusio plasenta
  • Gerakan janin dan DJJ tidak ada
  • Perdarahan 
  • Nyeri perut hebat Syok 
  • Perut kembung / cairan bebas intra abdominal 
  • Kontur uterus abnormal
  • Abdomen nyeri
  • Bagian – bagian janin teraba 
  • Denyut nadi bu cepat Rupture uteri
  • Gerakan janin berkurang atau hilang
  • DJJ abnormal(<100/menit atau >140/ menit) Cairan ketuban bercampur mekonium
  • Gawat janin
  • Gerakan janin / DJJ hilang Tanda – tanda kehamilan berhenti
  • Tinggi fundus uteri berkurang
  • Pembesaran uterus berkurang Kematian janin
4. Adanya gelembung-gelembung gas pada badan janin

Gejala dan tanda selalu ada
Gejala dan tanda selalu ada
Diagnosa kemungkinan
·         Gerakan janin berkurang atau hilang
·         Nyeri perut hilang timbul atau menetap
·         Perdarahan pervaginam sesudah hamil 22 minggu
·         Syok
·         Uterus tegang atau kaku
·         Gawat janin atau djj tidak terdengar
Solisio placenta
·         Gerakan janin dan djj tidak ada
·         Perdarahan
·         Nyeri perut hebat
·         Syok
·         Perut kembung atau cairan bebas intra abdominal
·         Kontur uterus abnormal
·         Abdomen nyeri
·         Bagian-bagian janin teraba
Rupture uteri
·         Gerakan janin berkurang atau hilang
·         Djj abnormal ( <100/menit atau >180/menit)
·         Cairan ketuban campur mekonium
Gawat janin
·         Gerakan janin atau djj hilang
·         Tanda- tanda kehamilan berhenti
·         Tinggi fundus uteri berkurang
·         Pembesaran uteri berkurang
Kematian janin
D. KLASIFIKASI
Golongan I
Golongan II
Golongan III
Golongan IV
kematian sebelum massa kehamilan mencapai 20 minggu penuh
kematian sesudah ibu hamil 20-28 minggu
kematian sesudah masa kehamilan >28 minggu (late fetal death)
kematian yang tidak dapat digolongkan pada ketiga golongan di atas
E. FAKTOR RESIKO
ü  Faktor predisposisi
a)       Faktor ibu
  • Ketidakcocokan rhesus darah ibu dengan janin. 
  • Akan timbul masalah bila ibu memiliki rhesus negatif, sementara bapak rhesus positif. Sehingga anak akan mengikuti yang dominan; menjadi rhesus positif. "Akibatnya antara ibu dan janin mengalami ketidakcocokan rhesus."
  • Ketidakcocokan ini akan mempengaruhi kondisi janin tersebut. Misalnya, dapat terjadi hidrops fetalis; suatu reaksi imunologis yang menimbulkan gambaran klinis pada janin, antara lain pembengkakan pada perut akibat terbentuknya cairan berlebih dalam rongga perut (asites), pembengkakan kulit janin, penumpukan cairan di dalam rongga dada atau rongga jantung.
  •   Ketidakcocokan golongan darah antara ibu dan janin.Terutama pada golongan darah A,B,O. "Yang kerap terjadi antara golongan darah anak A atau B dengan ibu bergolongan O atau sebaliknya." Sebab, pada saat masih dalam kandungan, darah ibu dan janin akan saling mengalir lewat plasenta. Bila darah janin tidak cocok dengan darah ibunya, maka ibu akan membentuk zat antibodinya.
  • Berbagai penyakit pada ibu hamil.Salah satu contohnya preeklampsia dan diabetes. Itulah mengapa pada ibu hamil perlu dilakukan cardiotopografi (CTG) untuk melihat kesejahteraan janin dalam rahim.
  •  Trauma saat hamil.Trauma bisa mengakibatkan terjadi solusio plasentae atau plasenta terlepas. Trauma terjadi, misalnya, karena benturan pada perut, entah karena kecelakaan atau pemukulan. "Benturan ini bisa saja mengenai pembuluh darah di plasenta, sehingga timbul perdarahan di plasenta atau plasenta lepas sebagian. Akhirnya aliran darah ke bayi pun jadi tak ada."
  •   Infeksi pada ibu hamil.Ibu hamil sebaiknya menghindari berbagai infeksi, seperti infeksi akibat bakteri maupun virus. "Bahkan demam tinggi pada ibu hamil bisa menyebabkan janin tak tahan akan panas tubuh ibunya."
  •   status social ekonomi yang rendah
  •   tingkat pendidikan ibu yang rendah
  •   umur ibu yang > 30 tahun atau < dari 20 tahun
  •   ganggguan gizi dan anemia dalam kehamilan
  •    ibu dengan riwayat kehamilan / persalinan sebelumnya tidak baik seperti bayi lahir mati
b)     Faktor bayi
  • Gerakan bayi yang berlebihan / liarGerakan bayi dalam rahim yang sangat berlebihan, terutama jika terjadi gerakan satu arah saja. karena gerakannya berlebihan, terlebih satu arah saja, maka tali pusat yang menghubungkan janin dengan ibu akan terpelintir. Kalau tali pusat terpelintir, maka pembuluh darah yang mengalirkan plasenta ke bayi jadi tersumbat." Kalau janin sampai memberontak, yang ditandai gerakan "liar", biasanya karena kebutuhannya ada yang tidak terpenuhi, entah itu karena kekurangan oksigen, atau makanan. Karena itu, harus segera dilakukan tindakan yang mengarah pada pemenuhan kebutuhan janin. Misalnya, apakah oksigen dan gizinya cukup? Kalau ibu punya riwayat sebelumnya dengan janin meninggal, maka sebaiknya aktivitas ibu jangan berlebihan. "Sebab, dengan aktivitas berlebihan, maka gizi dan zat makanan hanya dikonsumsi ibunya sendiri, sehingga janin relatif kekurangan." 
  • Kelainan kromosom.Bisa disebut penyakit bawaan, misalnya, kelainan genetik berat trisomy. "Kematian janin akibat kelainan genetik biasanya baru terdeteksi saat kematian udah terjadi, yaitu dari otopsi bayi." Sebab, ungkap Nasdaldy, jarang sekali dilakukan pemeriksaan kromosom saat janin masih dalam kandungan. "Selain biayanya mahal, risikonya juga tinggi. Karena harus mengambil air ketuban dari plasenta janin sehingga berisiko besar terinfeksi, juga bisa lahir prematur. Kecuali kalau memang ada keganjilan dalam kehamilan tersebut yang dicurigai sebagai kelainan kromosom."
  • Kelainan bawaan bayi.Kelainan bawaan pada bayi sendiri, seperti jantung atau paru-paru, bisa engakibatkan kematian di kandungan.

F. MANIFESTASI KLINIS / KOMPLIKASI
  • Kematian janin akan menyebabkan desidua plasenta menjadi rusak  menghasilkan  masuk kedalam peredaran darah ibu tromboplastin¡  pembekuan intravaskuler  yang dimulai dari endotel pembuluh darah oleh  terjadi pembekuan darah trombosit   Disseminated yang meluas   hipofibrinogenemia (kadar intravascular coagulation  fibrinogen < 100 mg%), biasa pada 4-5 minggu sesudah IUFD.
  • Kadar normal fibrinogen pada wanita hamil adalah 300-700mg%. Akibat kekurangan fibrinogen maka dapat terjadi hemoragik post partum. Partus biasanya berlangsung 2-3 minggu setelah janin mati.   Dampak psikologis dapat timbul pada ibu setelah lebih dari 2 minggu kematian janin yang dikandungnya. 
  • DJJ tidak terdengar 
  • Uterus tidak membesar, fundus uteri turun
  • Pergerakan anak tidak teraba lagi oleh pemeriksa 
  • Palpasi anak menjadi tidak jelas 
  • Reaksi biologis menjadi negatif setelah anak mati kurang lebih 10 hari
  • Bila janin yang mati tertahan 5 minggu atau lebih, kemungkinan Hypofibrinogenemia 25%.
G. PATOFISIOLOGI
Menurut dr Botefilia SpOG, Spesialis Kebidanan dan Kandungan Rumah Sakit Persahabatan, Jakarta, ada beberapa faktor yang menyebabkan kematian janin dalam kandungan, antara lain:
1. Hipertensi atau tekanan darah tinggi
2. Preeklampsia dan eklampsia
3. Perdarahan
 Waspada jika ibu mengalami perdarahan hebat akibat plasenta previa (plasenta yang menutupi jalan lahir) atau solusio plasenta (terlepasnya plasenta dari tempat implantasinya di dalam uterus sebelum bayi dilahirkan). Otomatis Hb janin turun dan bisa picu kematian janin.
4. Kelainan kongenital (bawaan) bayi
Yang bisa mengakibatkan kematian janin adalah hidrops fetalis, yakni akumulasi cairan dalam tubuh janin. Jika akumulasi cairan terjadi dalam rongga dada bisa menyebabkan hambatan nafas bayi. Kerja jantung menjadi sangat berat akibat dari banyaknya cairan dalam jantung sehingga tubuh bayi mengalami pembengkakan atau terjadi kelainan pada paru-parunya.

5. Ketidakcocokan golongan darah ibu dan janin
Terutama pada golongan darah A, B, O. Kerap terjadi golongan darah anak A atau B, sedangkan Moms bergolongan O atau sebaliknya. Pasalnya, saat masih dalam kandungan darah ibu dan janin akan saling mengalir lewat plasenta. Bila darah janin tidak cocok dengan darah ibunya, maka Moms akan membentuk zat antibodi.

6. Janin yang hiperaktif
Gerakan janin yang berlebihan, apalagi hanya pada satu arah saja,  bisa mengakibatkan tali pusat yang menghubungkan ibu dengan janin terpelintir. Akibatnya, pembuluh darah yang mengalirkan suplai oksigen maupun nutrisi melalui plasenta ke janin akan tersumbat. Tak hanya itu, tidak menutup kemungkinan tali pusat tersebut bisa membentuk tali simpul yang mengakibatkan janin menjadi sulit bergerak. Hingga saat ini kondisi tali pusat terpelintir atau tersimpul tidak bisa terdeteksi. Sehingga, perlu diwaspadai bilamana ada gejala yang tidak biasa saat hamil.

7. Gawat janin
Bila air ketuban habis otomatis tali pusat terkompresi antara badan janin dengan ibunya. Kondisi ini bisa mengakibatkan janin ‘tercekik’ karena suplai oksigen dari Moms ke janin terhenti. Gejalanya dapat diketahui melalui cardiotopografi (CTG). Mula-mula detak jantung janin kencang, lama-kelamaan malah menurun hingga di bawah rata-rata.

8. Kehamilan lewat waktu (postterm)
Kehamilan lebih dari 42 minggu.Jika kehamilan telah lewat waktu, plasenta akan mengalami penuaan sehingga fungsinya akan berkurang. Janin akan kekurangan asupan nutrisi dan oksigen. Cairan ketuban bisa berubah menjadi sangat kental dan hijau, akibatnya cairan dapat terhisap masuk ke dalam paru-paru janin. Hal ini bisa dievaluasi melalui USG dengan color doppler sehingga bisa dilihat arus arteri umbilikalis jantung ke janin. Jika demikian, maka kehamilan harus segera dihentikan dengan cara diinduksi. Itulah perlunya taksiran kehamilan pada awal kehamilan dan akhir kehamilan melalui USG.

9. Infeksi saat hamil
Saat hamil sebaiknya menjaga kondisi tubuh dengan baik guna menghindari berbagai infeksi bakteri atau virus. Bahkan, demam tinggi pada ibu bisa mengakibatkan janin tidak tahan akan panas tubuh ibunya.

10. Kelainan kromosom
Kelainan kromosom termasuk penyakit bawaan. Kematian janin akibat kelainan genetik biasanya baru terdeteksi saat kematian sudah terjadi, melalui otopsi bayi. Jarang dilakukan pemeriksaan kromosom saat janin masih dalam kandungan. Selain biayanya mahal, juga sangat berisiko. Karena harus mengambil air ketuban dari plasenta janin sehingga berisiko besar janin terinfeksi, bahkan lahir prematur.
Bila janin mati dalam kehamilan yang telah lanjut terjadilah perubahan- perubahan sebagai berikut :
§    Rigor mostis (tegang mati)
 Berlangsung 2,5 jam setelah mati, kemudian lemas kembali.
§    Stadium maserasi I
Timbul lepuh-lepuh pada kulit, mula-mula terisi cairan jernih tapi kemudian menjadi merah. Stadium ini berlangsung 48 jam setelah mati.
§   Stadium maserasi II
Lepuh-lepuh pecah dan mewarnai air ketuban menjadi merah coklat, stadium ini berlangsung 48 jam setelah anak mati.
§   Stadium maserasi III
Terjadi kira-kira 3 minggu setelah anak mati. Badan janin sangat lemas, hubungan antara tulang-tulang sangat longgar dan terdapat oedem dibawah kulit.
H. PENANGANAN
  1.  Penanganan Umum

            - Berikan dukungan emosional pada ibu
            - Nilai DJJ
            -Nilai ibu mendapa sedative, tungg hilangnya pengaruh obat, kemudian nilai ulang
            - Bila DJJ tidak terdengar minta beberapa orang mendengarkan menggunakan  

 2.  Penanganan Pada Masa Persalinan
             Kematian janin dapat terjadi akibat gangguan pertumbuhan janin, gawat janin, atau kelainan bawaan atau akibat infeksi yang tidak terdiagnosis sebelumnya sehingga tidak terobati.

            Jika pemeriksaan radiologic tersedia, konfirmasi kematian janin setelah lima hari. Tanda-tandanya berupa overlapping tulang engkorak, hiperfleksi kolumna, vertebralis, gelembung udara didlam jantung dan edema scalp.

             USG adalah sarana penunjang diagnostic yang baik untuk memastikan
- kematian janin dimana gambarannya menunjukan janin tanpa tanda hidup: tidak ada denyut jantung janin, ukuran kepala janin dan cairan ketuban berkurang.
 Dukungan mental emosional perlu diberikan kepada pasien selalu
- didampingi oleh orang terdekatnya. Yakinkan bahwa besar kemungkinan dapat jhir per vaginal.
Pilihlah cra persalinan dapat secara aktif dengan induksi maupun ekspektatif, perlu dibicarakan dengan pasien dan keluarganya sebelum keputsan diambil.
Bila pilihan penanganan persalinan adalah akspetif:
            o Tunggu persalinan spontan hingg dua minggu
            o Yakinkan bahwa 90% persalinan spontan akan terjadi tanpa komplikasi.
            o Jika trombosit dalam 2 minggu menurun tanpa persalinan spontan,
            o Jika penanganan aktif akan dilakukan, nilai serviks:
            o Jika serviks matang, lakukann induksi persalinan dengan oksitosin
            o Jika serviks belum mtang, lakukan pematangan serviks dengan prostaglandin 
I. PENATALAKSANAAN
  • Bila disangka telah terjadi kematian janin dalam rahim tidak usah terburu-buru bertindak, sebaiknya diobservasi dulu dalam 2-3 minggu untuk mencari kepastian diagnosis.
  • Biasanya selama masih menunggu ini 70-90 % akan terjadi persalinan yang spontan
  • Jika pemeriksaan Radiologik tersedia, konfirmasi kematian janin setelah 5 hari. Tanda-tandanya berupa overlapping tulang tengkorak, hiperfleksi columna vertebralis, gelembung udara didalam jantung dan edema scalp. 
  • USG merupakan sarana penunjang diagnostik yang baik untuk memastikan kematian janin dimana gambarannya menunjukkan janin tanpa tanda kehidupan, tidak ada denyut jantung janin, ukuran kepala janin dan cairan ketuban berkurang.
  • Dukungan mental emosional perlu diberikan kepada pasien. Sebaiknya pasien selalu didampingi oleh orang terdekatnya. Yakinkan bahwa kemungkinan besar dapat lahir pervaginam. 
  • Pilihan cara persalinan dapat secara aktif dengan induksi maupun ekspektatif, perlu dibicarakan dengan pasien dan keluarganya sebelum keputusan diambil. 
  •  Bila pilihan penanganan adalah ekspektatif maka tunggu persalinan spontan hingga 2 minggu dan yakinkan bahwa 90 % persalinan spontan akan terjadi tanpa komplikasi  
  • Jika trombosit dalam 2 minggu menurun tanpa persalinan spontan, lakukan penanganan aktif.
  •  Jika penanganan aktif akan dilakukan, nilai servik yaitu Jika servik matang,lakukan induksi persalinan dengan oksitosin atau prostaglandin.
  • Jika serviks belum matang, lakukan pematangan serviks dengan prostaglandin atau kateter foley, dengan catatan jangan lakukan amniotomi karena berisiko infeksi
  • Persalinan dengan seksio sesarea merupakan alternatif terakhir
  • Jika ada tanda infeksi, berikan antibiotika untuk metritis. 
  • Jika tes pembekuan sederhana lebih dari 7 menit atau bekuan mudah pecah, waspada koagulopati 
  • Berikan kesempatan kepada ibu dan keluarganya untuk melihat dan melakukan kegiatan ritual bagi janin yang meninggal tersebut. 
  • Pemeriksaan patologi plasenta adalah untuk mengungkapkan adanya patologi plasenta dan infeksi 
  • Bila setelah 3 minggu kematian janin dalam kandungan atau 1 minggu setelah diagnosis. Partus belum mulai maka wanita harus dirawat agar dapat dilakukan induksi persalinan
  • Induksi partus dapat dimulai dengan pemberian esterogen untuk mengurangi efek progesteron atau langsung dengan pemberian oksitosin drip dengan atau tanpa amniotomi.

PREEKLAMSIA

Gejala Preeklamsia

Kadang, preeklamsia bisa berkembang tanpa gejala apa pun atau hanya muncul gejala-gejala ringan.
Gejala utama dari preeklampsia adalah tekanan darah yang terus meningkat. Naiknya tekanan darah bisa terjadi dengan lambat, akibatnya sulit untuk memastikan kondisi ini. Oleh karena itu, memonitor tekanan darah secara rutin menjadi hal penting untuk dilakukan selama masa kehamilan. Jika tekanan darah wanita hamil mencapai 140/90 mm Hg atau lebih, segeralah berkonsultasi dengan dokter kandungan, terutama bila tekanan darah di level ini ditemukan dalam 2 kali pemeriksaan rutin yang terpisah.
Selain hipertensi, gejala umum lainnya dari preeklamsia adalah:
  • Sesak napas, karena ada cairan di paru-paru.
  • Sakit kepala parah.
  • Berkurangnya volume urine.
  • Gangguan penglihatan. Pandangan hilang sementara, menjadi kabur, dan sensitif terhadap cahaya.
  • Mual dan muntah.
  • Rasa nyeri pada perut bagian atas. Biasanya di bawah tulang rusuk sebelah kanan.
  • Meningkatnya kandungan protein pada urine (proteinuria).
  • Gangguan fungsi hati.
  • Pembengkakan pada telapak kaki, pergelangan kaki, wajah dan tangan.
  • Berkurangnya jumlah trombosit dalam darah.
Laju pertumbuhan janin yang melambat juga bisa menandakan sang ibu mengidap preeklamsia. Kondisi ini disebabkan berkurangnya pasokan darah ke plasenta sehingga janin mengalami kekurangan pasokan oksigen dan nutrisi.
Agar preeklamsia bisa segera terdiagnosis dan ditangani, lakukanlah konsultasi rutin dengan dokter kandungan setiap bulan. Jangan ragu untuk melakukan konsultasi dengan dokter kandungan lebih sering jika merasakan gejala-gejala yang tidak wajar selama masa kehamilan.

Penyebab Preeklamsia

Sampai saat ini masih belum diketahui penyebab utama dari preeklamsia.Namun beberapa ahli percaya jika preeklamsia mulai berkembang di plasenta. Plasenta adalah organ yang menghubungkan suplai darah ibu hamil dengan suplai darah janin yang dikandungnya, dan nutrisi selama janin di dalam kandungan diberikan melalui plasenta.
Pada wanita dengan preeklamsia, pertumbuhan dan perkembangan pembuluh darah plasenta terganggu, sehingga lorong pembuluh lebih sempit dari yang seharusnya serta melakukan reaksi berbeda terhadap rangsangan hormon. Kondisi itu menyebabkan berkurangnya jumlah darah yang bisa dialirkan.
Beberapa ahli lainnya menduga bahwa kurangnya nutrisi, tingginya kandungan lemak tubuh, faktor keturunan, dan kurangnya aliran darah ke uterus menjadi penyebab terjadinya preeklamsia.
Ada beberapa faktor yang bisa meningkatkan risiko wanita mengalami preeklamsia, yaitu:
  • Kehamilan pertama. Risiko terkena preeklamsia paling tinggi adalah saat seseorang hamil pertama kalinya.
  • Pernah mengalami preeklamsia pada kehamilan sebelumnya.
  • Sedang mengidap beberapa penyakit tertentu, seperti sindrom antifosfolipid, diabetes, lupus, hipertensi, atau penyakit ginjal.
  • Janin lebih dari satu. Preeklamsia biasanya diidap oleh wanita yang sedang mengandung dua atau lebih janin.
  • Hamil setelah berganti pasangan. Kehamilan pertama dengan pasangan yang baru meningkatkan risiko preeklamsia lebih tinggi dibanding kehamilan kedua atau ketiga tanpa berganti pasangan.
  • Hamil setelah jeda 10 tahun dengan kehamilan sebelumnya.
  • Faktor usia. Wanita hamil di atas usia 40 tahun punya risiko preeklamsia lebih tinggi.
  • Obesitas saat hamil. Wanita Asia dengan indeks massa tubuh 25 atau lebih saat hamil bisa meningkatkan risiko preeklamsia.
  • Faktor keturunan. Risiko mengidap preeklamsia lebih besar jika ada anggota keluarga yang pernah terkena preeklamsia.

Diagnosis Preeklamsia

Jika wanita hamil rutin memeriksakan kandungannya setiap bulan, maka gejala-gejala preeklamsia akan cepat didiagnosis dan ditangani. Sebab setiap pemeriksaan kehamilan dokter akan selalu mengecek tekanan darah ibu hamil. Apabila gejala-gejala preeklamsia diketahui di sela-sela jadwal rutin pemeriksaan kehamilan, maka segera temui dokter kandungan.
Jika dokter mencurigai adanya preeklamsia dari hasil pemeriksaan tekanan darah, Anda akan diminta menjalani beberapa tes seperti:
  • Ultrasonografi fetus. Dalam tes ini dokter akan memeriksa berat janin dan jumlah air ketuban. Kurangnya air ketuban adalah salah satu tanda rendahnya suplai darah ke janin.
  • Analisis darah. Tes ini akan melihat kinerja organ hati dan ginjal serta jumlah trombosit dalam darah wanita hamil.
  • Analisis urine. Dari cairan urine akan dilihat berapa perbandingan kandungan protein dan kreatinin.
  • Non stress test atau NST. Prosedur yang berfungsi untuk mengukur detak jantung bayi saat bergerak selama masih di dalam kandungan.

Pengobatan dan Pencegahan Preeklamsia

Apabila hasil diagnosis menyatakan bahwa Anda berisiko tinggi terkena preeklamsia, biasanya dokter akan meminta Anda mengonsumsi parasetamol dosis rendah. Parasetamol dosis rendah diduga dapat menurunkan risiko terkena preeklamsia. Wanita yang kekurangan asupan kalsium sebelum dan saat kehamilan, juga akan disarankan mengonsumsi suplemen kalsium untuk mencegah preeklampsia. Akan tetapi wanita hamil sebaiknya jangan mengonsumsi obat, vitamin, atau suplemen apa pun tanpa konsultasi dengan dokter kandungan terlebih dulu.
Pada dasarnya, hanya proses kelahiranlah yang bisa menyembuhkan preeklamsia. Jika preeklamsia muncul ketika usia janin belum cukup untuk dilahirkan, dokter kandungan akan memonitor kondisi tubuh Anda dan sang calon bayi dengan seksama hingga usia janin sudah cukup untuk dilahirkan. Dokter juga akan meminta Anda menjalani analisis darah ultrasonografi dan NST lebih sering.
Ketika preeklamsia semakin parah, wanita hamil akan disarankan untuk rawat inap di rumah sakit sampai janin siap dilahirkan. Dokter akan menjalankan tes NST rutin untuk memantau kesehatan janin.
Jika preeklamsia muncul ketika usia janin sudah cukup untuk dilahirkan, biasanya dokter akan menyarankan tindakan induksi atau bedah sesar untuk mengeluarkan bayi sesegera mungkin. Langkah ini diambil agar preeklamsia tidak berkembang menjadi lebih parah.
Obat-obatan yang bisa dilakukan untuk wanita hamil yang mengalami preeklamsia adalah:
  • Antihipertensi. Fungsi pengobatan ini untuk menurunkan tekanan darah. Biasanya dokter akan memilih obat antihipertensi yang aman bagi janin. Konsultasikan dengan dokter, dosis aman bagi Anda dan janin.
  • Kortikosteroid. Paru-paru janin bisa berkembang lebih matang dengan bantuan pengobatan ini. Kinerja liver dan trombosit akan ditingkatkan dengan obat ini untuk memperpanjang usia kehamilan.
  • Antikonvulsan. Dokter bisa saja meresepkan obat antikonvulsan jika preeklamsia yang diderita cukup parah, agar terhindar dari kejang-kejang.

Komplikasi Preeklamsia

Komplikasi preeklamsia dapat dibagi dua, yaitu pada wanita hamil dan pada bayi. Pada wanita hamil, preeklamsia bisa menimbulkan komplikasi sebagai berikut:
  • Sindrom HELLP (Haemolysis – Elevated Liver enzymesLow platelet count). Ini adalah sindrom rusaknya sel darah merah, meningkatnya enzim liver, rendahnya jumlah trombosit darah. Sindrom ini bisa mengancam keselamatan wanita hamil dan janinnya.
  • Eklamsia. Kondisi di mana kejang-kejang atau kontraksi otot-otot yang dialami oleh wanita hamil. Janin yang dikandung bisa tewas ketika ibu sedang kejang-kejang. Selain janin, eklamsia juga mengancam keselamatan wanita hamil.
  • Penyakit kardiovaskular. Risiko terkena penyakit yang berhubungan dengan fungsi jantung dan pembuluh darah akan meningkat jika Anda pernah mengidap preeklamsia.
  • Kegagalan organ lain. Preeklamsia bisa menyebabkan disfungsi beberapa organ seperti edema paru, gagal ginjal, dan gagal liver.
  • Rusaknya sistem penggumpalan darah. Kondisi ini bisa menyebabkan perdarahan secara berlebihan. Perdarahan ini terjadi karena kurangnya kadar protein dalam darah.
  • Erupsi Plasenta. Kondisi lepasnya plasenta dari dinding bagian dalam uterus sebelum kelahiran dapat mengakibatkan perdarahan serius dan kerusakan plasenta. Kondisi ini akan membahayakan keselamatan wanita hamil dan janin.
  • Stroke Hemoragik. Pecahnya pembuluh darah di otak karena tingginya tekanan di dalam pembuluh darah. Darah mengisi rongga kepala sehingga sel-sel otak akan mulai mati karena tidak mendapatkan pasokan oksigen dan nutrisi yang cukup. Kondisi inilah yang menyebabkan kerusakan otak atau bahkan kematian.
Komplikasi pada janin yang disebabkan preeklamsia bisa menyebabkan pertumbuhan janin melambat. Jika preeklamsia yang diidap ibu hamil cukup parah, maka janin harus dilahirkan meski organ tubuhnya belum tumbuh hingga sempurna. Komplikasi serius seperti kesulitan bernapas bisa diidap bayi yang lahir dengan kondisi ini. Terkadang bayi bisa meninggal di dalam kandungan. Dalam kondisi seperti ini, bayi harus menerima perawatan dan pengawasan secara intensif.

RETENSIO PLASENTA



Hasil gambar untuk GAMBAR PLASENTA














Pengertian Plasenta
o   Retensio Plasenta adalah plasenta yang belum lepas setelah bayi lahir, melebihi waktu    setengah jam (Manuaba, 2001: 432).
o   Retensio Plasenta ialah tertahannya atau belum lahirnya plasenta hingga 30 menit atau lebih setelah bayi (Syaifudin AB, 2001).
o     Retensio plasenta adalah keadaan dimana plasenta belum lahir daam waktu 1 jam setelah bayi lahir (Rsustam Mochtar, 1998 : 299).
Etiologi 
Menurut Wiknjosastro (2007) sebab retensio plasenta dibagi menjadi 2 golongan ialah sebab fungsional dan sebab patologi anatomik.
1.    Sebab fungsional 
 a)    His yang kurang kuat (sebab utama)
 b)    Tempat melekatnya yang kurang menguntungkan (contoh : di sudut tuba)
 c)    Ukuran plasenta terlalu kecil
 d)    Lingkaran kontriksi pada bagian bawah perut 
2.  Sebab patologi anatomik (perlekatan plasenta yang abnormal)
  • Plasenta akreta :  vili korialis menanamkan diri lebih dalam ke dalam dinding rahim daripada                biasa ialah sampai ke batas antara endometrium dan miometrium 
  • Plasenta inkreta :  vili korialis masuk ke dalam lapisan otot rahim 
  • Plasenta perkreta : vili korialis menembus lapisan otot dan mencapai  serosa atau menembusnya           
Pencegahan
Untuk mencagah retensio plasenta dapat disuntikkan 10 iu pitosin i.m segera setelah bayi 
       lahir.
Akibat
Dapat menimbulkan bahaya perdarahan, infeksi karena sebagai benda mati, dapat terjadi
placenta inkarserata, dapat terjadi polip placenta dan terjadi degenarasi ganas korio
karsinoma.
Penanganan
a.  Sikap umum Bidan
    1)   Memperhatikan ku penderita
                     *    Apakah anemis
        *     Bagaimana jumlah perdarahannya
        *     TTV : TD, nadi dan suhu
        *     Keadaan fundus uteri : kontraksi dan fundus uteri
     2)  Mengetahui keadaan placenta
                     *    Apakah placenta ikarserata
        *    Melakukan tes pelepasan placenta : metode kusnert, metode klein, metode   
              strassman, metode manuaba
                      *    Memasang infus dan memberikan cairan pengganti
       b. Sikap khusus bidan
                1) Retensio placenta dengan perdarahan
                    Langsung melakukan placenta manual
                2) Retensio placenta tanpa perdarahan
               *    Setelah dapat memastikan k/u penderita segera memasang infus dan     
              memberikan cairan.
        *    Merujuk penderita ke pusat dengan fasilitas cukup untuk mendapatkan  
               penanganan lebih baik.
        *     Memberikan tranfusi.
        *     Proteksi dengan antibiotika.
        *     Mempersiapkan placenta manual dengan legeartis dalam keadaan pengaruh
              narkosa.
3) Upaya preventif retensio placenta oleh bidan
                     *     Meningkatkan penerimaan keluarga berencana sehingga, memperkecil terjadi
                           retensio placenta.
               *     Meningkatkan penerimaan pertolongan persalinan oleh nakes yang terlatih.
               *     Pada waktu melakukan pertolongan persalinan kala III tidak diperkenankan untuk
                      melakukan massase dengan tujuan mempercepat proses persalinan placenta. 
                      Massase yang tidak tepat waktu dapat mengacaukan kontraksi otot rahim dan 
                      mengganggu pelepasan placenta. 
PLACENTA MANUAL
Placenta manual merupakan tindakan operasi kebidanan untuk melahirkan retensio placenta. Kejadian retensio placenta berkaitan dengan : 
· Grandemulti para dengan implantasi dalam bentuk placenta adhesiva, placenta akreta, placenta perkreta.
·   Mengganggu kontraksi otot rahim dan menimbulkan perdarahan.
1. Retensio placenta tanpa perdarahan dapat diperkirakan :
§  darah penderita terlalu banyak hilang
§  keseimbangan baru terbentuk bekuan darah, sehingga perdarahan tidak terjadi.
§  Kemungkinan implantasi placenta terlalu dalam.
2. Placenta manual dengan segera dilakukan :
§  terdapat riwayat perdarahan post partum berulang
§  terjadi perdarahan post partum melebihi 500 cc.
§  pada pertolongan persalinan dengan narkosa.
§  Placenta belum lahir setelah menunggu selama setengah jam.

PERSIAPAN PLACENTA MANUAL
o   Handscoon steril panjang
o   Desinfektan untuk genitalia eksterna
TEKHNIK
1. Sebaiknya dengan narkosa, untuk mengurangi sakit dan menghindari syok.
2. Tangan kiri melebarkan genetalia eksterna, tangan kanan dimasukkan secara obstetri
    sampai mencapai tepi placenta dengan menelusuri tali pusat.
3. Tepi placenta dilepaskan dengan ulnar tangan kanan sedangkan tangan kiri menahan
    fundus uteri sehingga tidak terdorong ke atas.
4. Setelah seluruh placenta dapat dilepaskan, maka tangan dikeluarkan bersama dengan
    placenta.
5. Dilakukan eksplorasi untuk mencari sisa placenta atau membrannya.
6. Kontraksi uterus ditimbulkan dengan memberikan uterotonika.
7. Perdarahan di observasi.
KOMPLIKASI TINDAKAN PLACENTA MANUAL
Tindakan placenta manual dapat menimbulkan komplikasi sebagai berikut :
·         Terjadi perforasi uterus
·     Terjadi infeksi akibat terdapat sisa placenta atau membran dan bakteria terdorong ke  dalam rongga rahim
·        Terjadi perdarahan karena atonia uteri.
Untuk memperkecil komplikasi dapat dilakukan tindakan profilaksis dengan :
o   Memberikan uterotonika intravena atau intramuskular
o   Memasang tamponade utero vaginal
o   Memberikan antibiotika
o   Memasang infus dan persiapan tranfusi darah.
ASUHAN KEBIDANAN PADA POST PLACENTA MANUAL

  1.  Observasi kontraksi uterus setiap 15 menit pada 1 jam pertama. Pada jam kedua  setiap 30  menit.
  2.   Observasi TD dan nadi setiap 15 menit pada 1 jam pertama. Pada jam kedua setiap 30 menit. 
  3.   Observasi suhu setiap 1 jam.
  4.  Observasi TFU, UC dan kandung kemih setiap 15 menit pada 1 jam pertama. Pada jam kedua setiap 30 menit.
  5.   Observasi perdarahan.
  6.   Pemenuhan kebutuhan cairan dengan RL
  7.   Pemenuhan kebutuhan nutrisi
  8.   Pemberian terapi obat terutama antibiotik , analgesik
  9.   Pemberian tablet Fe
  10.   Pemberian vit A