Selasa, 19 April 2016

PREEKLAMSIA

Gejala Preeklamsia

Kadang, preeklamsia bisa berkembang tanpa gejala apa pun atau hanya muncul gejala-gejala ringan.
Gejala utama dari preeklampsia adalah tekanan darah yang terus meningkat. Naiknya tekanan darah bisa terjadi dengan lambat, akibatnya sulit untuk memastikan kondisi ini. Oleh karena itu, memonitor tekanan darah secara rutin menjadi hal penting untuk dilakukan selama masa kehamilan. Jika tekanan darah wanita hamil mencapai 140/90 mm Hg atau lebih, segeralah berkonsultasi dengan dokter kandungan, terutama bila tekanan darah di level ini ditemukan dalam 2 kali pemeriksaan rutin yang terpisah.
Selain hipertensi, gejala umum lainnya dari preeklamsia adalah:
  • Sesak napas, karena ada cairan di paru-paru.
  • Sakit kepala parah.
  • Berkurangnya volume urine.
  • Gangguan penglihatan. Pandangan hilang sementara, menjadi kabur, dan sensitif terhadap cahaya.
  • Mual dan muntah.
  • Rasa nyeri pada perut bagian atas. Biasanya di bawah tulang rusuk sebelah kanan.
  • Meningkatnya kandungan protein pada urine (proteinuria).
  • Gangguan fungsi hati.
  • Pembengkakan pada telapak kaki, pergelangan kaki, wajah dan tangan.
  • Berkurangnya jumlah trombosit dalam darah.
Laju pertumbuhan janin yang melambat juga bisa menandakan sang ibu mengidap preeklamsia. Kondisi ini disebabkan berkurangnya pasokan darah ke plasenta sehingga janin mengalami kekurangan pasokan oksigen dan nutrisi.
Agar preeklamsia bisa segera terdiagnosis dan ditangani, lakukanlah konsultasi rutin dengan dokter kandungan setiap bulan. Jangan ragu untuk melakukan konsultasi dengan dokter kandungan lebih sering jika merasakan gejala-gejala yang tidak wajar selama masa kehamilan.

Penyebab Preeklamsia

Sampai saat ini masih belum diketahui penyebab utama dari preeklamsia.Namun beberapa ahli percaya jika preeklamsia mulai berkembang di plasenta. Plasenta adalah organ yang menghubungkan suplai darah ibu hamil dengan suplai darah janin yang dikandungnya, dan nutrisi selama janin di dalam kandungan diberikan melalui plasenta.
Pada wanita dengan preeklamsia, pertumbuhan dan perkembangan pembuluh darah plasenta terganggu, sehingga lorong pembuluh lebih sempit dari yang seharusnya serta melakukan reaksi berbeda terhadap rangsangan hormon. Kondisi itu menyebabkan berkurangnya jumlah darah yang bisa dialirkan.
Beberapa ahli lainnya menduga bahwa kurangnya nutrisi, tingginya kandungan lemak tubuh, faktor keturunan, dan kurangnya aliran darah ke uterus menjadi penyebab terjadinya preeklamsia.
Ada beberapa faktor yang bisa meningkatkan risiko wanita mengalami preeklamsia, yaitu:
  • Kehamilan pertama. Risiko terkena preeklamsia paling tinggi adalah saat seseorang hamil pertama kalinya.
  • Pernah mengalami preeklamsia pada kehamilan sebelumnya.
  • Sedang mengidap beberapa penyakit tertentu, seperti sindrom antifosfolipid, diabetes, lupus, hipertensi, atau penyakit ginjal.
  • Janin lebih dari satu. Preeklamsia biasanya diidap oleh wanita yang sedang mengandung dua atau lebih janin.
  • Hamil setelah berganti pasangan. Kehamilan pertama dengan pasangan yang baru meningkatkan risiko preeklamsia lebih tinggi dibanding kehamilan kedua atau ketiga tanpa berganti pasangan.
  • Hamil setelah jeda 10 tahun dengan kehamilan sebelumnya.
  • Faktor usia. Wanita hamil di atas usia 40 tahun punya risiko preeklamsia lebih tinggi.
  • Obesitas saat hamil. Wanita Asia dengan indeks massa tubuh 25 atau lebih saat hamil bisa meningkatkan risiko preeklamsia.
  • Faktor keturunan. Risiko mengidap preeklamsia lebih besar jika ada anggota keluarga yang pernah terkena preeklamsia.

Diagnosis Preeklamsia

Jika wanita hamil rutin memeriksakan kandungannya setiap bulan, maka gejala-gejala preeklamsia akan cepat didiagnosis dan ditangani. Sebab setiap pemeriksaan kehamilan dokter akan selalu mengecek tekanan darah ibu hamil. Apabila gejala-gejala preeklamsia diketahui di sela-sela jadwal rutin pemeriksaan kehamilan, maka segera temui dokter kandungan.
Jika dokter mencurigai adanya preeklamsia dari hasil pemeriksaan tekanan darah, Anda akan diminta menjalani beberapa tes seperti:
  • Ultrasonografi fetus. Dalam tes ini dokter akan memeriksa berat janin dan jumlah air ketuban. Kurangnya air ketuban adalah salah satu tanda rendahnya suplai darah ke janin.
  • Analisis darah. Tes ini akan melihat kinerja organ hati dan ginjal serta jumlah trombosit dalam darah wanita hamil.
  • Analisis urine. Dari cairan urine akan dilihat berapa perbandingan kandungan protein dan kreatinin.
  • Non stress test atau NST. Prosedur yang berfungsi untuk mengukur detak jantung bayi saat bergerak selama masih di dalam kandungan.

Pengobatan dan Pencegahan Preeklamsia

Apabila hasil diagnosis menyatakan bahwa Anda berisiko tinggi terkena preeklamsia, biasanya dokter akan meminta Anda mengonsumsi parasetamol dosis rendah. Parasetamol dosis rendah diduga dapat menurunkan risiko terkena preeklamsia. Wanita yang kekurangan asupan kalsium sebelum dan saat kehamilan, juga akan disarankan mengonsumsi suplemen kalsium untuk mencegah preeklampsia. Akan tetapi wanita hamil sebaiknya jangan mengonsumsi obat, vitamin, atau suplemen apa pun tanpa konsultasi dengan dokter kandungan terlebih dulu.
Pada dasarnya, hanya proses kelahiranlah yang bisa menyembuhkan preeklamsia. Jika preeklamsia muncul ketika usia janin belum cukup untuk dilahirkan, dokter kandungan akan memonitor kondisi tubuh Anda dan sang calon bayi dengan seksama hingga usia janin sudah cukup untuk dilahirkan. Dokter juga akan meminta Anda menjalani analisis darah ultrasonografi dan NST lebih sering.
Ketika preeklamsia semakin parah, wanita hamil akan disarankan untuk rawat inap di rumah sakit sampai janin siap dilahirkan. Dokter akan menjalankan tes NST rutin untuk memantau kesehatan janin.
Jika preeklamsia muncul ketika usia janin sudah cukup untuk dilahirkan, biasanya dokter akan menyarankan tindakan induksi atau bedah sesar untuk mengeluarkan bayi sesegera mungkin. Langkah ini diambil agar preeklamsia tidak berkembang menjadi lebih parah.
Obat-obatan yang bisa dilakukan untuk wanita hamil yang mengalami preeklamsia adalah:
  • Antihipertensi. Fungsi pengobatan ini untuk menurunkan tekanan darah. Biasanya dokter akan memilih obat antihipertensi yang aman bagi janin. Konsultasikan dengan dokter, dosis aman bagi Anda dan janin.
  • Kortikosteroid. Paru-paru janin bisa berkembang lebih matang dengan bantuan pengobatan ini. Kinerja liver dan trombosit akan ditingkatkan dengan obat ini untuk memperpanjang usia kehamilan.
  • Antikonvulsan. Dokter bisa saja meresepkan obat antikonvulsan jika preeklamsia yang diderita cukup parah, agar terhindar dari kejang-kejang.

Komplikasi Preeklamsia

Komplikasi preeklamsia dapat dibagi dua, yaitu pada wanita hamil dan pada bayi. Pada wanita hamil, preeklamsia bisa menimbulkan komplikasi sebagai berikut:
  • Sindrom HELLP (Haemolysis – Elevated Liver enzymesLow platelet count). Ini adalah sindrom rusaknya sel darah merah, meningkatnya enzim liver, rendahnya jumlah trombosit darah. Sindrom ini bisa mengancam keselamatan wanita hamil dan janinnya.
  • Eklamsia. Kondisi di mana kejang-kejang atau kontraksi otot-otot yang dialami oleh wanita hamil. Janin yang dikandung bisa tewas ketika ibu sedang kejang-kejang. Selain janin, eklamsia juga mengancam keselamatan wanita hamil.
  • Penyakit kardiovaskular. Risiko terkena penyakit yang berhubungan dengan fungsi jantung dan pembuluh darah akan meningkat jika Anda pernah mengidap preeklamsia.
  • Kegagalan organ lain. Preeklamsia bisa menyebabkan disfungsi beberapa organ seperti edema paru, gagal ginjal, dan gagal liver.
  • Rusaknya sistem penggumpalan darah. Kondisi ini bisa menyebabkan perdarahan secara berlebihan. Perdarahan ini terjadi karena kurangnya kadar protein dalam darah.
  • Erupsi Plasenta. Kondisi lepasnya plasenta dari dinding bagian dalam uterus sebelum kelahiran dapat mengakibatkan perdarahan serius dan kerusakan plasenta. Kondisi ini akan membahayakan keselamatan wanita hamil dan janin.
  • Stroke Hemoragik. Pecahnya pembuluh darah di otak karena tingginya tekanan di dalam pembuluh darah. Darah mengisi rongga kepala sehingga sel-sel otak akan mulai mati karena tidak mendapatkan pasokan oksigen dan nutrisi yang cukup. Kondisi inilah yang menyebabkan kerusakan otak atau bahkan kematian.
Komplikasi pada janin yang disebabkan preeklamsia bisa menyebabkan pertumbuhan janin melambat. Jika preeklamsia yang diidap ibu hamil cukup parah, maka janin harus dilahirkan meski organ tubuhnya belum tumbuh hingga sempurna. Komplikasi serius seperti kesulitan bernapas bisa diidap bayi yang lahir dengan kondisi ini. Terkadang bayi bisa meninggal di dalam kandungan. Dalam kondisi seperti ini, bayi harus menerima perawatan dan pengawasan secara intensif.

RETENSIO PLASENTA



Hasil gambar untuk GAMBAR PLASENTA














Pengertian Plasenta
o   Retensio Plasenta adalah plasenta yang belum lepas setelah bayi lahir, melebihi waktu    setengah jam (Manuaba, 2001: 432).
o   Retensio Plasenta ialah tertahannya atau belum lahirnya plasenta hingga 30 menit atau lebih setelah bayi (Syaifudin AB, 2001).
o     Retensio plasenta adalah keadaan dimana plasenta belum lahir daam waktu 1 jam setelah bayi lahir (Rsustam Mochtar, 1998 : 299).
Etiologi 
Menurut Wiknjosastro (2007) sebab retensio plasenta dibagi menjadi 2 golongan ialah sebab fungsional dan sebab patologi anatomik.
1.    Sebab fungsional 
 a)    His yang kurang kuat (sebab utama)
 b)    Tempat melekatnya yang kurang menguntungkan (contoh : di sudut tuba)
 c)    Ukuran plasenta terlalu kecil
 d)    Lingkaran kontriksi pada bagian bawah perut 
2.  Sebab patologi anatomik (perlekatan plasenta yang abnormal)
  • Plasenta akreta :  vili korialis menanamkan diri lebih dalam ke dalam dinding rahim daripada                biasa ialah sampai ke batas antara endometrium dan miometrium 
  • Plasenta inkreta :  vili korialis masuk ke dalam lapisan otot rahim 
  • Plasenta perkreta : vili korialis menembus lapisan otot dan mencapai  serosa atau menembusnya           
Pencegahan
Untuk mencagah retensio plasenta dapat disuntikkan 10 iu pitosin i.m segera setelah bayi 
       lahir.
Akibat
Dapat menimbulkan bahaya perdarahan, infeksi karena sebagai benda mati, dapat terjadi
placenta inkarserata, dapat terjadi polip placenta dan terjadi degenarasi ganas korio
karsinoma.
Penanganan
a.  Sikap umum Bidan
    1)   Memperhatikan ku penderita
                     *    Apakah anemis
        *     Bagaimana jumlah perdarahannya
        *     TTV : TD, nadi dan suhu
        *     Keadaan fundus uteri : kontraksi dan fundus uteri
     2)  Mengetahui keadaan placenta
                     *    Apakah placenta ikarserata
        *    Melakukan tes pelepasan placenta : metode kusnert, metode klein, metode   
              strassman, metode manuaba
                      *    Memasang infus dan memberikan cairan pengganti
       b. Sikap khusus bidan
                1) Retensio placenta dengan perdarahan
                    Langsung melakukan placenta manual
                2) Retensio placenta tanpa perdarahan
               *    Setelah dapat memastikan k/u penderita segera memasang infus dan     
              memberikan cairan.
        *    Merujuk penderita ke pusat dengan fasilitas cukup untuk mendapatkan  
               penanganan lebih baik.
        *     Memberikan tranfusi.
        *     Proteksi dengan antibiotika.
        *     Mempersiapkan placenta manual dengan legeartis dalam keadaan pengaruh
              narkosa.
3) Upaya preventif retensio placenta oleh bidan
                     *     Meningkatkan penerimaan keluarga berencana sehingga, memperkecil terjadi
                           retensio placenta.
               *     Meningkatkan penerimaan pertolongan persalinan oleh nakes yang terlatih.
               *     Pada waktu melakukan pertolongan persalinan kala III tidak diperkenankan untuk
                      melakukan massase dengan tujuan mempercepat proses persalinan placenta. 
                      Massase yang tidak tepat waktu dapat mengacaukan kontraksi otot rahim dan 
                      mengganggu pelepasan placenta. 
PLACENTA MANUAL
Placenta manual merupakan tindakan operasi kebidanan untuk melahirkan retensio placenta. Kejadian retensio placenta berkaitan dengan : 
· Grandemulti para dengan implantasi dalam bentuk placenta adhesiva, placenta akreta, placenta perkreta.
·   Mengganggu kontraksi otot rahim dan menimbulkan perdarahan.
1. Retensio placenta tanpa perdarahan dapat diperkirakan :
§  darah penderita terlalu banyak hilang
§  keseimbangan baru terbentuk bekuan darah, sehingga perdarahan tidak terjadi.
§  Kemungkinan implantasi placenta terlalu dalam.
2. Placenta manual dengan segera dilakukan :
§  terdapat riwayat perdarahan post partum berulang
§  terjadi perdarahan post partum melebihi 500 cc.
§  pada pertolongan persalinan dengan narkosa.
§  Placenta belum lahir setelah menunggu selama setengah jam.

PERSIAPAN PLACENTA MANUAL
o   Handscoon steril panjang
o   Desinfektan untuk genitalia eksterna
TEKHNIK
1. Sebaiknya dengan narkosa, untuk mengurangi sakit dan menghindari syok.
2. Tangan kiri melebarkan genetalia eksterna, tangan kanan dimasukkan secara obstetri
    sampai mencapai tepi placenta dengan menelusuri tali pusat.
3. Tepi placenta dilepaskan dengan ulnar tangan kanan sedangkan tangan kiri menahan
    fundus uteri sehingga tidak terdorong ke atas.
4. Setelah seluruh placenta dapat dilepaskan, maka tangan dikeluarkan bersama dengan
    placenta.
5. Dilakukan eksplorasi untuk mencari sisa placenta atau membrannya.
6. Kontraksi uterus ditimbulkan dengan memberikan uterotonika.
7. Perdarahan di observasi.
KOMPLIKASI TINDAKAN PLACENTA MANUAL
Tindakan placenta manual dapat menimbulkan komplikasi sebagai berikut :
·         Terjadi perforasi uterus
·     Terjadi infeksi akibat terdapat sisa placenta atau membran dan bakteria terdorong ke  dalam rongga rahim
·        Terjadi perdarahan karena atonia uteri.
Untuk memperkecil komplikasi dapat dilakukan tindakan profilaksis dengan :
o   Memberikan uterotonika intravena atau intramuskular
o   Memasang tamponade utero vaginal
o   Memberikan antibiotika
o   Memasang infus dan persiapan tranfusi darah.
ASUHAN KEBIDANAN PADA POST PLACENTA MANUAL

  1.  Observasi kontraksi uterus setiap 15 menit pada 1 jam pertama. Pada jam kedua  setiap 30  menit.
  2.   Observasi TD dan nadi setiap 15 menit pada 1 jam pertama. Pada jam kedua setiap 30 menit. 
  3.   Observasi suhu setiap 1 jam.
  4.  Observasi TFU, UC dan kandung kemih setiap 15 menit pada 1 jam pertama. Pada jam kedua setiap 30 menit.
  5.   Observasi perdarahan.
  6.   Pemenuhan kebutuhan cairan dengan RL
  7.   Pemenuhan kebutuhan nutrisi
  8.   Pemberian terapi obat terutama antibiotik , analgesik
  9.   Pemberian tablet Fe
  10.   Pemberian vit A

Senin, 21 Maret 2016

Jadwal Kunjungan pada Masa Nifas

Masa nifas (pueperium) dimulai setelah plasenta lahir dan berakhir ketika alat-alat kandungan kembali seperti keadaan sebelum hamil. Masa nifas berlangsung selama kira-kira 6 minggu.

Kunjungan masa nifas paling sedikit dilakukan sebanyak 4 kali kunjungan uang yaitu untuk menilai keadaan ibu dan bayi baru lahir, dan untuk mencegah, mendeteksi dan menangani masalah-masalah yang terjadi. Berikut ini adalah jadwal kunjungan masa nifas yang dianjurkan:

1. Kunjungan ke-1 (6-8 jam setelah persalinan), tujuannya untuk:
  • Mencegah perdarahan masa nifas karena atonia uteri.
  • Medeteksi dan merawat penyebab lain perdarahan dan merujuk apabila perdarahan berlanjut.
  • Memberikan konseling pada ibu atau salah satu anggota keluarga bagaimana mencegah perdarahan masa nifas karena atonia uteri.
  • Pemberian ASI awal.
  • Melakukan hubungan antara ibu dan bayi baru lahir.
  • Menjaga bayi tetap sehat dengan cara mencegah hipotermia. 
  • Jika petugas kesehatan menolong persalinan, ia harus tinggal dengan ibu dan bayi baru lahir untuk 2 jam pertama setelah kelahiran, atau sampai ibu dan bayi dalam keadaan stabil 2.
2.  Kunjungan ke-2 (6 hari setelah persalinan), tujuannya untuk:
  • Memastikan involusi uterus berjalan normal, uterus berkontraksi, fundus di bawah umbilikus, tidak ada perdarahan abnormal, tidak ada bau.
  • Menilai adanya tanda-tanda demam, infeksi, atau perdarahan abnormal.
  • Memastikan ibu mendapatkan cukup makanan, cairan, dan istirahat.
  • Memastikan ibu menyusui dengan baik dan tak memperlihatkan tanda-tanda penyulit.
  • Memberikan konseling pada ibu mengenai asuhan pada bayi, tali pusat, menjaga bayi tetap hangat, dan merawat bayi sehari-hari.
3. Kunjungan ke-3 (2 minggu setelah persalinan), tujuannya untuk:
  • Sama seperti di atas (6 hari setelah persalinan)
4. Kunjungan ke-4 (6 minggu setelah persalinan), tujuannya untuk:
  • Menanyakan pada ibu tentang penyulit-penyulit yang ia atau bayi alami.
  • Memberikan konseling untuk KB secara dini. 

Sumber: Buku Panduan Praktis Pelayanan Kesehatan Maternal dan Neonatal